SANGGAU, – Tim SAR gabungan resmi menghentikan operasi pencarian terhadap seorang pria yang dilaporkan tenggelam di Sungai Kapuas, tepatnya di Desa Lalang, Tayan Hilir, Sanggau.
Penghentian operasi dilakukan setelah proses pencarian memasuki hari ketujuh dengan hasil nihil.
Keputusan penghentian operasi SAR tersebut dilakukan pada Selasa, 5 Mei 2026, setelah seluruh upaya pencarian dinilai telah dilakukan secara maksimal oleh tim gabungan yang terlibat.
Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa laporan awal terkait peristiwa tersebut diterima pihaknya pada 29 April 2026 sekitar pukul 00.05 WIB dari BPBD Kabupaten Sanggau.
Laporan tersebut menyebutkan adanya kondisi membahayakan manusia berupa seorang warga yang tenggelam di aliran Sungai Kapuas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun tim SAR, kejadian bermula pada 28 April 2026 sekitar pukul 14.50 WIB.
Saat itu korban diketahui sedang melakukan aktivitas kerja di atas sungai menggunakan perahu kayu.
Namun nahas, korban diduga terjatuh dari perahu ke Sungai Kapuas dan tenggelam. Hingga beberapa saat setelah kejadian, korban tidak kembali muncul ke permukaan air.
Kondisi arus sungai yang cukup deras diduga menjadi salah satu faktor yang menyulitkan korban untuk menyelamatkan diri.
Usai kejadian, masyarakat setempat bersama keluarga korban langsung melakukan pencarian awal secara mandiri di sekitar lokasi korban terjatuh.
Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Karena korban tak kunjung ditemukan, kejadian kemudian dilaporkan kepada pihak terkait untuk dilakukan operasi pencarian secara resmi.
Tim SAR gabungan kemudian diterjunkan ke lokasi untuk melakukan proses pencarian lanjutan.
Pada hari ketujuh operasi SAR, tim gabungan kembali melanjutkan pencarian dengan melakukan penyisiran permukaan sungai ke arah hilir.
Area pencarian diperluas hingga sejauh 24 nautical mile dari titik awal korban dilaporkan tenggelam.
Meski berbagai metode pencarian telah dilakukan, termasuk pemantauan di sejumlah titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi korban terbawa arus, hasil pencarian tetap nihil.
“ Setelah dilakukan penyisiran dan pemantauan secara maksimal, korban belum ditemukan. Maka operasi SAR dihentikan dengan hasil nihil,” ujar I Made Junetra.
Setelah memasuki hari ketujuh tanpa adanya tanda-tanda keberadaan korban, tim SAR kemudian melakukan koordinasi dan evaluasi bersama keluarga korban serta seluruh unsur yang terlibat.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, operasi SAR akhirnya resmi ditutup pada pukul 17.30 WIB atas usulan SAR Mission Coordinator (SMC).
Keputusan penghentian operasi mengacu pada prosedur standar pencarian dan pertolongan yang berlaku.
Korban diketahui bernama Dedi Kartika (47), seorang pria yang saat kejadian sedang beraktivitas di atas sungai.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban yang selama tujuh hari terus berharap adanya kabar baik dari proses pencarian.
Meski operasi resmi dihentikan, pihak Kantor SAR Pontianak memastikan koordinasi dan pemantauan tetap dilakukan.
Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.
SAR juga membuka kemungkinan operasi pencarian kembali dilakukan apabila ada informasi baru dari masyarakat maupun pihak terkait.
Operasi pencarian ini melibatkan berbagai unsur gabungan, mulai dari aparat pemerintah, kepolisian, TNI, hingga masyarakat setempat.
Beberapa unsur yang terlibat antara lain Kantor SAR Pontianak, Babinsa TNI AD, Polsek Tayan Hilir, BPBD Kabupaten Sanggau, Puskesmas Tayan Hilir, pihak perusahaan PT ICA, potensi SAR Kabupaten Sanggau, aparat Desa Lalang, keluarga korban, serta masyarakat sekitar.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bentuk sinergi dalam penanganan kondisi darurat di wilayah perairan.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya keselamatan saat beraktivitas di sungai, terutama di wilayah dengan arus yang cukup kuat seperti Sungai Kapuas.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan selalu memperhatikan faktor keselamatan ketika menggunakan perahu maupun bekerja di perairan.
Penggunaan alat keselamatan seperti pelampung juga dinilai penting guna meminimalkan risiko kecelakaan air.
Sungai Kapuas yang menjadi jalur utama aktivitas masyarakat di Kalimantan Barat memang memiliki peran vital dalam kehidupan sehari-hari.
Namun di balik itu, potensi bahaya di perairan juga perlu menjadi perhatian serius. Kasus tenggelamnya Dedi Kartika menunjukkan bahwa kecelakaan air dapat terjadi kapan saja, terutama ketika faktor keselamatan kurang diperhatikan.
Sinergi antara masyarakat, aparat, dan tim SAR menjadi hal penting dalam penanganan kondisi darurat di wilayah sungai.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap keselamatan di perairan, diharapkan risiko kecelakaan serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.





