SANGGAU, – Upaya pencarian seorang remaja yang dilaporkan tenggelam di kawasan Riam Kecala akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban bernama Inam Apelia (14) dalam kondisi meninggal dunia pada Senin, 6 April 2026.
Korban sebelumnya dilaporkan hilang setelah terseret arus sungai yang deras di Desa Pana, Kabupaten Sanggau. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu sore, 5 April 2026, saat korban tengah beraktivitas bersama teman-temannya di lokasi kejadian.
Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan terkait kejadian tersebut pada malam hari.
“ Hari Minggu, 5 April 2026 pukul 21.17 WIB, Pos SAR Sintang menerima informasi dari BPBD Sanggau bahwa telah terjadi kondisi membahayakan manusia, yakni satu orang anak tenggelam di Riam Kecala, Desa Pana,” ujar Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban diketahui tenggelam saat sedang mandi di sungai bersama sejumlah temannya. Aktivitas tersebut berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB.
Namun, situasi berubah menjadi darurat ketika korban tiba-tiba terseret arus sungai yang cukup deras. Kondisi arus di kawasan riam memang dikenal tidak stabil dan dapat berubah secara tiba-tiba, terutama setelah hujan atau peningkatan debit air.
” Saat itu, korban diketahui tenggelam saat mandi bersama teman-temannya di lokasi kejadian sekitar pukul 17.00 WIB. Namun, tiba-tiba korban terseret arus sungai yang cukup deras,” katanya.
Teman-teman korban yang berada di lokasi sempat berusaha memberikan pertolongan. Namun, derasnya arus sungai membuat upaya tersebut tidak berhasil.
“ Teman-teman korban sempat berusaha memberikan pertolongan, namun tidak berhasil karena derasnya arus,” tambah Made.
Setelah korban dinyatakan hilang, warga bersama rekan korban langsung melakukan pencarian secara mandiri di sekitar lokasi kejadian. Upaya ini dilakukan hingga malam hari dengan harapan korban dapat segera ditemukan.
Namun, keterbatasan peralatan serta kondisi gelap membuat pencarian tidak membuahkan hasil. Situasi ini kemudian mendorong pihak terkait untuk melibatkan tim SAR dalam proses pencarian yang lebih terstruktur.
Setelah menerima laporan, tim SAR gabungan segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Operasi pencarian dilakukan dengan metode penyisiran di sepanjang aliran sungai, baik di permukaan maupun di titik-titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut.
Koordinasi antara berbagai unsur, termasuk BPBD, aparat desa, serta masyarakat setempat, menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pencarian.
Upaya pencarian terus dilakukan hingga akhirnya korban berhasil ditemukan pada keesokan harinya.
” Setelah dilakukan penyisiran hingga akhirnya korban berhasil ditemukan pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 10.46 WIB,” terangnya.
Korban ditemukan pada koordinat 0°7’14.205″ N – 110°40’43.372″ E dalam kondisi sudah meninggal dunia. Lokasi penemuan ini tidak jauh dari titik awal korban dilaporkan tenggelam.
Setelah ditemukan, tim SAR gabungan langsung melakukan proses evakuasi dengan hati-hati. Jenazah korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman.
Proses evakuasi berlangsung lancar meskipun medan di sekitar lokasi cukup menantang.
Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian dan penyelamatan secara resmi dinyatakan selesai pada pukul 11.20 WIB.
Seluruh unsur yang terlibat dalam operasi SAR kemudian dikembalikan ke kesatuan masing-masing setelah memastikan seluruh prosedur telah dilaksanakan.
Penutupan operasi ini menandai berakhirnya upaya pencarian yang telah dilakukan sejak laporan pertama diterima.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko aktivitas di kawasan riam atau sungai berarus deras. Meski sering menjadi tempat rekreasi atau aktivitas masyarakat, kawasan seperti Riam Kecala memiliki potensi bahaya yang cukup tinggi.
Arus yang tidak stabil, kedalaman yang bervariasi, serta kondisi dasar sungai yang tidak terlihat menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Terlebih bagi anak-anak dan remaja, pengawasan orang dewasa menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah kejadian serupa.
Pihak SAR mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di perairan, terutama di lokasi yang memiliki arus deras.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menghindari berenang di area berarus kuat, tidak beraktivitas di sungai saat debit air meningkat, menggunakan alat keselamatan jika diperlukan, dan selalu berada dalam pengawasan orang dewasa
Kesadaran akan risiko ini diharapkan dapat mengurangi potensi kecelakaan di masa mendatang.
Kejadian ini menjadi duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar. Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat penting akan bahaya yang dapat muncul dari aktivitas sehari-hari di alam terbuka.
Peran cepat tim SAR gabungan dalam merespons laporan dan melakukan pencarian patut diapresiasi. Namun, upaya pencegahan tetap menjadi langkah utama untuk menghindari kejadian serupa.
Keselamatan harus menjadi prioritas, terutama saat beraktivitas di lingkungan yang memiliki potensi risiko tinggi seperti sungai dan riam.





