MELAWI, – Upaya pencarian terhadap seorang nelayan lanjut usia yang dilaporkan hilang saat mencari ikan di perairan Sungai Cina akhirnya resmi dihentikan. Tim SAR gabungan menutup operasi setelah tujuh hari pencarian intensif tidak membuahkan hasil.
Korban diketahui bernama Sira (75), warga setempat yang dilaporkan hilang di wilayah Mungguk, Kecamatan Tanah Pinoh Barat, Kabupaten Melawi. Hingga hari terakhir pencarian, keberadaan korban belum berhasil ditemukan.
Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan secara maksimal oleh tim di lapangan.
” Tim SAR gabungan kembali melakukan pencarian di sekitar lokasi dan melakukan penyisiran hingga 14 kilometer ke arah hilir dari lokasi kejadian kecelakaan (LKK),” ungkap Kepala Kantor SAR, I Made Junetra.
Operasi pencarian dimulai sejak laporan pertama diterima terkait hilangnya korban. Selama tujuh hari, tim SAR gabungan terus melakukan upaya pencarian dengan berbagai metode, termasuk penyisiran permukaan air dan pemantauan di titik-titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi korban.
Memasuki hari ketujuh, pencarian masih terus dilanjutkan dengan harapan korban dapat segera ditemukan. Namun, kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri, terutama karena luasnya area pencarian dan karakteristik arus sungai.
” Penyisiran dilakukan sejauh 14 km ke arah hilir sungai. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil dan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban,” tambah Junetra.
Penyisiran hingga belasan kilometer ini menunjukkan luasnya area yang harus dijangkau oleh tim SAR, sekaligus menggambarkan potensi pergerakan korban yang terbawa arus sungai.
Operasi pencarian ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari tim SAR, aparat setempat, hingga masyarakat sekitar. Kolaborasi ini menjadi salah satu faktor penting dalam upaya pencarian korban.
Seluruh unsur bekerja secara terpadu untuk memaksimalkan pencarian, baik melalui jalur air maupun pemantauan di sepanjang bantaran sungai.
Meski demikian, hingga hari terakhir operasi, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil, tim SAR bersama pihak keluarga korban dan unsur terkait melakukan evaluasi terhadap operasi yang telah berlangsung.
Keputusan untuk menghentikan pencarian diambil berdasarkan pertimbangan teknis dan prosedur standar dalam operasi SAR.
” Berdasarkan hasil kesepakatan bersama, operasi pencarian secara resmi dihentikan dengan hasil nihil,” tuturnya.
Keputusan ini bukan hal yang mudah, mengingat harapan keluarga untuk menemukan korban masih sangat besar. Namun, prosedur operasional menetapkan batas waktu pencarian yang harus dipatuhi.
Dengan dihentikannya operasi SAR, korban secara resmi dinyatakan hilang. Meski demikian, peluang untuk melanjutkan pencarian tetap terbuka apabila ditemukan informasi baru.
” Dengan dihentikannya operasi SAR, korban dinyatakan hilang. Apabila di kemudian hari terdapat informasi atau tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi SAR akan dibuka kembali,” pungkasnya.
Hal ini memberikan harapan bagi keluarga bahwa pencarian dapat kembali dilakukan jika ada petunjuk yang mengarah pada keberadaan korban.
Pada pukul 17.10 WIB, Search and Rescue Mission Coordinator (SMC) secara resmi mengusulkan penutupan operasi SAR. Seluruh unsur yang terlibat kemudian dikembalikan ke satuannya masing-masing.
Penutupan ini menandai berakhirnya operasi pencarian yang telah dilakukan selama satu pekan penuh.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko yang dihadapi masyarakat yang beraktivitas di perairan, terutama bagi para nelayan yang setiap hari bergantung pada sungai sebagai sumber mata pencaharian.
Faktor seperti arus sungai, kondisi cuaca, serta keterbatasan alat keselamatan menjadi risiko yang harus dihadapi.
Bagi nelayan lanjut usia, risiko tersebut dapat menjadi lebih tinggi, sehingga diperlukan kewaspadaan ekstra.
Pihak SAR mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sungai, untuk selalu mengutamakan keselamatan.
Penggunaan alat pelindung diri seperti pelampung, serta memastikan kondisi fisik yang prima sebelum beraktivitas, menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan untuk tidak beraktivitas sendirian di perairan, terutama di lokasi yang memiliki arus deras.
Peristiwa hilangnya seorang nelayan di Melawi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Meski upaya pencarian telah dilakukan secara maksimal, hasil yang diharapkan belum dapat tercapai.
Kejadian ini menjadi pengingat penting akan risiko yang melekat pada aktivitas di perairan. Di sisi lain, peran cepat tim SAR gabungan dalam melakukan pencarian patut diapresiasi.
” Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dalam beraktivitas di perairan,” tutupnya.
Ke depan, diharapkan kesadaran akan keselamatan dapat terus ditingkatkan guna mencegah kejadian serupa terjadi kembali.





